Setelah Listrik Kedondong Tinggal Cerita, Ini yang Dilakukan Warga

https://fokusberita188.blogspot.com/2018/04/setelah-listrik-kedondong-tinggal.html


Aceh - Keinginan warga Desa Tampur Paloh, Kecamatan Simpang Jernih, Aceh Timur untuk hidup dalam terang seketika pupus. Listrik kedondong yang digadang-gadangkan mampu menyidari rumah berbanding terbalik dengan keadaan. Alhasil, warga memilih patungan membeli solar untuk menyalakan mesin genset. 

Tokoh masyarakat Tampur Paloh, Hasbi (53), mengatakan, di desanya kini sudah ada delapan mesin genset diesel yang dibeli oleh delapan warga Tampur Paloh. Satu mesin genset itu, mampu menghidupi listrik sekitar 20 rumah. 

"Delapan mesin itu milik pribadi. Kami warga di sini patungan untuk membeli minyak saja. Kalau mesin rusak pemilik yang perbaiki. (Status) Sosial yang punya mesin memang sangat tinggi," kata Hasbi saat ditemui detikcom akhir pekan lalu. 

Untuk memakai listrik tenaga genset, masyarakat harus membayar uang pembelian minyak. Warga yang menggunakan lampu saja dibebani biaya Rp 90 ribu perbulannya. Sementara bagi warga yang memiliki televisi membayar sebanyak Rp 150 ribu per bulan. Warga tidak mampu, hanya bisa mengandalkan lampu teplok. 

Listrik genset ini hidup dari pukul 18.00 WIB hingga pukul 23.00 WIB. Setelah itu, perkampungan kembali gelap gulita. Menurut Hasbi, lampu hidup tergantung minyak yang dibelikan berdasarkan uang hasil patungan. Begitu solar habis, listrik padam.  AGEN CASINO TERBAIK 



"Satu liter solar di sini harganya Rp 10 ribu, harga premium juga sama. Kadang jam 11 malam habis minyak genset ya kami kembali gelap gulita. Besok beli lagi minyaknya," jelas Hasbi. 

"Kita patungan beli minyak saja. Itu biaya perawatannya belum kita hitung. Sosial mereka masih kita hargai, karena kita cuma beli minyak saja. Kalau rusak mesin yang punya yang betulin. Kadang kasian juga kita tengok tapi mau gimana kami gak punya uang," ungkap Hasbi. 


Menurut Hasbi, jumlah kepala keluarga di Tampur Paloh yaitu 112 KK. Warga pedalaman Aceh Timur hingga kini belum pernah merasakan listrik PLN. Instalasi listrik di sebagian rumah sudah terpasang. Pemasangannya dilakukan untuk menghidupkan listrik dari pohon kedondong.

"Desa ini kalau tengah malam itu jadi gelap gulita apalagi setelah minyak genset habis. Tinggal di sini masih kayak zaman Belanda dululah. Kami masih pakai lampu teplok. Kadang-kadang ada rumah warga yang enggak pakai lampu, karena enggak sanggup beli minyak, sedih enggak. Seperti ibu-ibu yang janda kita bangunin kok enggak ada orang padahal ada di dalam tapi karena gelap," jelas Hasbi.  AGEN CASINO TERBAIK

Di Desa Tampur Paloh sebelumnya pernah dipasang listrik pohon kedondong oleh Pertamina EP. Namun lampu hidup hanya dua jam. Setelah itu, cahaya meredup hingga mati total sampai kini. Pohon kedondong yang ditanam di belakang rumah warga juga sudah banyak yang ditebang untuk dijadikan kayu bakar. 

"Listrik kedondong saat ada kunjungan ada hidup listrik. Ada kunjungan pejabat. Setiap kunjungan hidup. Tiga hari sebelum acara kunjungan teknisi sudah naik duluan. Gak perlu ngebor tinggal kotek-koteklah," kata Hasbi. 


Tidak ada komentar

Gambar tema oleh jangeltun. Diberdayakan oleh Blogger.